Selasa, 05 Maret 2013

Jalan Raya Pos, Jalan Raya Daendels



Riview: Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Jalan Raya Pos, atau yang lebih dikenal dengan nama Jalan Daendels, merupakan peristiwa sejarah pembangunan jalan yang membentang 1000 kilometer sepanjang utara pulau Jawa. Lebih tepatnya dari Anyer sampai Panarukan. Pembangunan dan pelebaran Jalan Daendels selesai dan digunakan pada 1809 ,di bawah perintah Maarschalk en Gouverneur Generaal, Mr. Herman Willem Daendels. Jalan yang dibangun menelan ribuan korban jiwa dan bersimpah darah di setiap jalanan yang dilalui. Dalam tragedi ini bangsa kita dibuat tak berdaya dalam menentang kolonialisme dan imperialisme. Kerja paksa ini merupakan tragedi genosida dalam masa pemerintahan Hindia-Belanda.
Saat pelaksanaan pembangunan, adapun trgadi-tragedi yang sangat mengenaskan dari setiap daerah yang dilalui Jalan Daendels. Cerita tiap daerah pun berbeda pemerlakuannya saat dibangunannya Jalan Daendels. Dalam pembangunan jalan, Daendels memberikan penjatahan pada para bupati yang kabupatennya dilalui jalan ini. Apabila pembangunan tidak terlaksana sesuai jatah yang ditentukan, mereka akan digantung sampai mati di pohon-pohon sekitar jalan.
Dalam sejarahnya Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia oleh Louis Napoleon pada 1808 untuk menyelamatkan Jawa, satu-satunya pulau besar yang belum dikuasi Inggris. Inggris menggusur hegemoni laut Belanda dengan cara penertiban administrasi dan kerjasama dengan golongan menengah sehingga dapat mengembangkan produksi dalam negerinya menjadi komoditi ekspor ke negeri-negeri jajahan. Pada 1806 dan 1807 Inggris melakukan penghancuran terhadap kekuatan laut Belanda di Batavia dan Gresik. Dalam pengangkatan Mr. Herman Willem Daendels jadi Gubernur Jenderal Hindia merangkap Panglima Angkatan Darat dan Laut, Ia diharapkan memerangi korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, membenahi perdagangan, dan pertanian.
Dengan pengangkatannya ini Daendels juga mempunyai maksud untuk mempertahankan koloninya dan melawan musuh yang mengancamnya. Adapun tugas yang diembannya, yang terpenting adalah pertahanan militer terhadap Inggris. Intinya mempertahankan Batavia sebagai ibukota kerajaan dunia Belanda di Asia. Perintah Daendels dalam perbaikan dan pelebaran jalan pertama dilakukan di Anyer-Batavia. Dalam perbaikannya hal ini mudah dilakukan karena medannya datar, dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan. Namun berbeda lagi pada saat mengerjakan Buitenzorg-Karangsembung. Dalam pengerjaannya sangat sulit dilakukan, karena harus menembus gunung-gunung tinggi dan dikerahkannya 1100 tenaga kerjapaksa. Waktu saat pembikinan jalan Megamendung, diberitakan 500 tenaga kerjapaksa Pribumi tewas. Besarnya jumlah Pribumi yang tewas, sebenarnya sama saja dengan genosida, pembunuhan besar-besaran. Namun hal ini tidak membuat Daendels berhenti di tengah jalan.
Dimulai dari Anyer
Pada Januari 1808 Daendels mendarat di Anyer. Pada waktu itu Anyer adalah pelabuhan kuno bagian tersempit Selat Sunda. Anyer secara tradisional adalah bagian dari Kesultanan Banten. Setelah terjadinya perbaikan jalan di Anyer selesai, Kompeni menerbitkan suratkabar sebagai propaganda kebijaksanaan. Dengan surat kabar ini, sejarah pers Indonesia bermula.
Cilegon
Sekitar 19 kilometer ke barat, Jalan Raya Pos sampai ke Cilegon. Daendels juga membangun benteng di sini untuk mengawasi perairan Selat Sunda. Tetapi pembangunan benteng ini gagal total, karena para pekerjanya disapu habis oleh malaria.
Banten
10 kilometer ke barat Cilegon, Jalan Raya Pos sampai ke Banten. Persaingan antara Banten dan Batavia sebagai Bandar dagang tak pernah menyusut. Banten sendiri menjadi bawahan Kompeni, dengan ancaman pemenuhan upeti komoditi kepadanya dan wilayah Banten akan menjadi milik Kompeni bila syarat-syarat pada Sultan tak terpenuhi.
Serang
Dari Banten Lama Jalan Raya Pos membelok ke selatan, samapailah di Serang yang masih wilayah (Keresidenan) Banten. Serang juga melahirkan intelektual Pribumi pertama, yaitu Pangeran Ahmad Djajadiningrat. Pribumi yang menamatkan HBS 5 tahun, pernah duduk sebagai anggota Dewan Hindia, Pemerintah Agung Hindia, dan pernah menjadi anggota delegasi Belanda di Volkenbond. Di tempat ini Kompeni juga pernah mendidrikan benteng.
Tangerang
Tangerang sebenaranya nama tempat dengan ejaan yang salah warisan Belanda. Sebenarnya ditulis dan diucapkan: Tanggeran. Semasa kolonial, pemerintah kolonial menjual tanah Tangerang kepada 70 orang tuantanah yang kebanyak adalah orang Tionghoa. Akibat kejadian tersebut, muncullah para jawara yang ingin mengganggu tuantanah. Tradisi jawara tanpa tuan tanah pada era kemerdekaan nasional menjadi sumber kriminalitas.
Tanahnya yang subur menhasilkan beras, palawija terutama kedelai. Hal ini menjadikan Tangerang sebagai produsen kecap sejak jaman Kompeni, Hindia-Belanda, Jepanng, dan sampai kemerdekaan Nasional. Dalam sejarah kemerdekaan nasional tempat ini pertama kali didirikan akademi Militer semasa Revolusi. Dan sekarang Tangerang sebagai kota Industri.
Batavia
Ke timur 25 kilometer sampailah Jalan Raya Pos ke Batavia. Batavia merupaka benteng yang dibangun dan diresmikan pada 12 Maret 1619. Batavia juga menjadi ibu kota kerajaan dunia Belanda di Asia dan Afrika.  Selain itu, kota Batavia dibangun menurut pola Belanda yang terdapat jalan, kanal, dan gedung.  
Pada abad 18 Batavia mendapat julukan “Ratu Timur” karena gedungnya yang megah, makmurnya penduduk termasuk budak beliannya, dan jaringan perdagangan Internasional yang maha luas dengan dukungan keperkasaan di lautan. Pemerintah kependudukan Jepang, nama Bativia diubah menjadi Jakarata atas permintaan kaum Nasionalis.
Meester Cornelis/Jatinegara
Pada awalnya tempat ini bernama Meester Cornelis. Bersamaan dengan diubahnya Batavia manjadi Jakarta, Meester Cornelis diubah menjadi Jati Negara. Di Jatinegara sendiri terdapat penjara besar bernama penjara Salemba. Pada masa Kompeni Jalan Raya Pos Daendels menghubungkan Jatinegara dengan Batavia sehingga tempat ini menjadi kota pemukiman yang nyaman dan menyenangkan.
Depok
Jalan Raya Pos menuju ke selatan sepanjang 22 kilometer melalui pasar minggu, Lenteng Agung, Pondok Cina sampai Depok. Depok sendiri semasa Kompeni adalah milik C. Chastelein, anggota Dewan Hindia yang dibelinya seharga 700 ringgit. Tanah yang diwariskan oleh budak belian dikelola menjadi pertanian yang sangat subur. Namun seiring perkembangan zaman tanah-tanh pertanian telah menjadi pemukiman yang dihuni oleh segala penjuru penduduk Indonesia.
Buitenzorg/Bogor
Depok ke selatan sekitar 22 kilometer Jalan Raya Pos sampailah di Bogor. Nama Buitenzorg terkenal samapai dunia Internasional karena kebur rayanya yang memliki koleksi tumbuhan terkaya di dunia. Selain itu terkenal karen Istananya, tempat para gubernur jendral silih berganti untuk mendiami tempat itu. Wilayh ini juga terkenal akan curah hujannya yang tinggi, dengan rata-rata setahun 432 cm.Sehingga kota Buitenzorg/ Bogor mendapat julukan Kota Hujan.
Priangan
Meninggalkan Bogor kemudian memasuki Priangan. Kota ini terkenal akan penduduknya yang kreatif, sehingga kesenian disini sangat berkembang. Priangan sendiri adalah tempat dimana penduduknya sama sekali tidak menyukai kekerasan. Hal ini yang mengakinbatkan VOC dengan mudah menguasai tempat ini. Disini juga dibetuk pundi-pundi komoditi untuk membiayai kekuasaan dan keuntungannya melalui tanam paksa kopi.
Cianjur
Cianjur terletak 460 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini mempunyai keistimewaan alam. Kabupaten ini terkenal karena gending gaya Cianjurnya, yang biasa dinamai Cianjuaran. Dari Cianjur ke timur sejauh 40 kilometer Jalan Raya Pos mendatar dan mendaki lagi menuju Padalarang.
Cimahi
Ke tenggara 3 kilometer, Jalan Raya Pos sampailah ke Cimahi. Sebenarnya nama tempat ini adalah Cikolokot, namun pada tahun 1913 semasa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Heutsz berganti nama menjadi Cimahi. Di Cimahi dibangun tangsi besar KNIL dengan rumah sakit militer yang cukup besar.
Bandung
Ke arah tenggara, tak samapai 5 kilometer samapilah di Bandung, di sebuah dataran tinggi bekas kawah purba. Bandung juga disebut Parijs van Java karena keindahan kotanya, juga sebagai pusat kemiliteran sejak awal abad 20. Selain itu Bandung sebagai ibu kota Asia-Afrika dan sekaligus tempat pertama kali diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika pada 1955. Bandung juga dikenal sebagai kota “Lautan Api”.
Bandung juga terkenal dengan julukan Bumi Sangkuriang. Karena kisah legenda Sangkuriang yang menikahi wanita, ternyata ibunya sendiri. Di tempat ini Bung Karno sebagai Presiden RI menjadi pembicara Konferensi Nasional Komite Perdamain Indonesi.
Sumedang
Kota Sumedang dengan keindahan tanah-tanah pertanian, adanya bukit dan lembah menjadikan kota ini sungguh indah. Untuk memlihara kebun pala dan cengkeh hasil dari merampok peduduk, VOC mendatangka tenaga kerja budak belian. Di sumedang juga dibangun patung Pangeran Kornel berhadapan dengan Daendels  sebagai bukti perlawanan Sumedang atas penindasan dalam membuat Jalan Raya Pos.
Karangsembung
Dari Sumedang belok ke timur, sekitar 100 kilometer menuju Karangsembung. Karangsembung merupakan titik akhir tahap pertama pembangunan jalan ini. Sepanjang jalan tanahnya sangat subur luar biasa, dan pada mas VOC penduduknya masih sedikit.
Cirebon
Cirebon merupakan kota Bandar Internasioanal, sebagai tempat membongkar dan melepas jangkar bagi kapal-kapal dagang Cina dan India. Penduduk yang menghuni Cirebon pun sangat banyak tidak hanya Pribumi, namun bangsa Eropa lainnya. Setelah kepergiam Daendels, sebagian besar penduduk Cirebon disapu pleh wabah pes. Setelah itu Jalan Raya Pos menuju Losari 30 kilometer dari arah tenggara.
Brebes
Brebes terletak di tepian Kali Pamali. Kali pamali menjadikan Brebes sebagai daerah gula, karena air dari kali mengaliri sebagian besar kebun tebu, dan berdirinya tiga pabrik gula. Hal ini yang menjadikan pemerintah kolonial ingin menguasai daerah tersebut
Tegal  tanahnya subur dengan hasil bumi yang melimpah. Selain itu tegal menjadi gudang beras Jawa tengah. Terdapat juga benteng sebagai perlindungan. Setelah menguasai Tegal, benteng diubah kolonial sebagai penjara.
Setelah itu menuju ke Pekalongan terkenal denga kerajinan batik pesisir. Pada masa Kompeni tempat ini maju dalam bidang produksi laut, seperti ikan. Jalan Raya Pos menuju ke Batang 8 kilometer ke timur dari Pekalongan. Di lajutkan 40 kilometer kea rah timur sampai ibu kota Waleri, daerah yang subur penghasil tembakau, padi, kopi, kapuk dan tebu dengan 2 pabrik gula. Meninggalkan Waleri, Jalan Raya Pos menuju Kendal, yang memilki sumber air mineral yang mengandung yodium. Kendal termasuk pemasok ikan bagi kota besar Semarang.
Semarang
Semarang adalah daerah genangan Kali Garang. Upaya Belanda untuk menyelamatkan kota yang berkembang di bidang ekonomi industry, dan administri, Belanda memotong sungai ini dalam memasuki kota. Di Semarang juga terjadi pertempuran 5 hari yang dibadikan dalam betuk monument Tugu Muda dan terdapat Gedung Lawang Sewu yang dulu digunakan kantor perusahaan kereta api semasa kolonial. Sedikit serong ke timur 28 kilometer sampai ke Demak. Demak muncul sebagai kerajaan Islam pertama. Peninggalan dari Demak sendir yang menjaidikan cirri khas dari tempat tersebut adalah Masjid Agung Demak.
Serong kea rah timur laut 22 kilometer samapi di Kudus. Disini untuk pertama kali lahir pedagang besar Pribumi dalam bidang rokok, dan semasa kolonial menguasai pasar rokok kretek di seluruh Jawa. Lanjut ke Pati, kabupaten ini penghasil gula yang terdapat 3 pabrik gula. Selain itu Pati sebagai kabupaten penghasil kapok terkemuka yang memiliki pohon  kapok 2.941.950. Serong ke timur sekitar 12 kilometer sampai ke Juwana. Pada mulanya kota ini berkembang sebagai pusat Bandar dan dagang. Namun setelah pemerintah kolonial memonopolinya, Juwana mengalami kemunduran yang sangat pesat.
Dua puluh satu kilometer ke timur, Jalan Raya Pos menuju ke Rembang. Dan pembangunan di lanjutkan menuju Tuban.  Alam Tuban begitu menarik karena adanya sumber-sumber air tawar. Selain itu terkenal dengan hasil lautnya, karena letaknya yang dekat Laut. Pembangunan lanjut ke Gresik, sejak masa kolonail Hindia-Belanda Gresik menjadi sentra kerajian kuningan dan perunggu. Selain itu terdapat pabrik semen yang menjadi kemajuan Gresik.
Tujuh kolometer dari Gresik sampailah ke Surabaya. Surabaya adalah sebuah bnadar yang besar semasa pemerintahan Komepeni. Perdangan antar pulau dan Internasional, mengakibatkan Surabaya menjadi pusat perdangan rempah-rempah. Setelah Surabaya pembangunan lanjut ke Wonokromo. Ke selatan 18 kilometer, jalan Raya Pos sampai ke Sidoarjo. Tambaknya yang luas menjadikan Sidoarjo sebagai sentra produsen makanan dari ikan laut. Sebenarnya wilayah Sidoarjo sendiri tak lain dari delta kali Brantas. Pada masa kolonial galengan air diteruskan, sehingga tanah-tanah rendah dapat digarap menjadi tanah pertanian dan perkebunan tebu yang semakin ke timur makin luas pertambakan ikannya. Dari Sidoarjo menuju ke arah selatan sekitar 10 kilometer, Jalan Raya Pos menuju ke Porong.
Setelah dari Porong Jalan Raya Pos berbelok ke timur sekitar 12 kiometer kemudian sampai di Bangil. Dari Bangil sekitar 20 kilometer ke timur sampai di Pasuruan. Tempat ini dahulu pernah sebagai pusat kerajaan semasa VOC. Pasuruan adalah daerah vulkanis yang sangat subur di bidang pertanian, perkebunan, dan peternakan. Menyusuri pantai selat Madura sekitar 30 kilometer ke tenggara sampailah di Porbolinggo. Pada awal kekuasaan VOC Porbolinggo pernah dijadikan ibu kota Provinsi Oosthoek ( Jawa Timur) yang kemudian jadi ibu kota Keresidenan. Tanah pertanian yang subur mengakibatkan Porbolinggo menjadi padat penduduk. 
Ke arah timur 22 kilometer, Jalan Raya Pos sampai ke kota Krasakan. Semasa kolonial wilayah ini kaya akan kebun tebu dan dengan sendirinya menjadi pusat pabrik gula.  Lalu Jalan Raya Pos menuju ke timur 20 kilometer samapai ke kota Besuki. Semasa colonial terkenal dengan daerah tembakau. Secara tradisional tembakau yang ada di Besuku diekspor dan dilelang di Belanda.  Pada pertengahan tahun 50-an ekspor dan lelang dipindahkan ke Bremen, Jerman karena terjadi konflik antara Indonesia dan Belanda. Dan sampai sekarang tujuan ekspor tetap Bremen.
Menyusuri panati dengan sedikit arah ke timur 28 kilometer, Jalan Raya Pos sampai ke terminal Panurukan. Kota ini menjadi yang terakhir atas pembangunan Jalan Raya Pos/Jalan Daendels karena pada masanya menjadi pelabuhan terpenting bagian timur pantai utara pulau Jawa. Panurukan juga menjadi pengekspor penting kopi dan gula ke luar negri, juga jadi tempat penumpukan hasil pertanian dari sepanjang pantai selat Bali. Semasa VOC, di Panurukan juga ada benteng Kompeni sebagai terjemahan keadaan siap perang. Inilah akhir dari pembangunan Jalan Raya Pos/ Jalan Daendels oleh Mr. Herman Willem Daendels yang membentang 1.000 kilometer dari Anyer sampai Panurukan.
Momentum penting yang diceritakan dalam novel ini, dimana terjadinya genosida akibat dari pembuatan Jalan Raya Pos/Jalan Daendels yang membentang 1.000 kilometer dari Anyer-Panurukan. Ribuan orang Pribumi meninggal dalam pembuatan jalan yang beraspalkan darah dan air mata para manusia yang merasakan kerja rodi. Dimana masyarakat Indonesia diperbudak oleh para penjajah. Sumber daya alam yang melimpah seperti rempah-rempah dan sebagainya s direbut oleh para penjajah. Bngsa yang kaya namun lemah, itu yang tergambarakan pada saat itu.
Akibat dari kejadian ini semua sangat berdampak bagi pembentukan Indonesia. Dari peninggalan Hindia-Belanda mengenai cultur stelsel (tanam paksa) berupa rempah-rempah, kopi, kapas, tebu, serta yang menyangkut dalam bidang pertanian dan perkebunan. Indonesia dalam bidang kesatuan ekonomi, bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada dengan mekanisme pertanian dan perkebunan. Selai itu Indonesia sebagai negara pengekspor rempah-rempah di tiap negara. Dalam kesatuan administrasi yang diwariskan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda adalah adanya sistem penerimaan kontingent atau wajib setor hasil bumi. Di Indonesia sendiri terdapat Pajak sebagai bentuk kewajiban yang harus dibayar setiap warga negara.
Dalam pengaturan wilayah pada masa pemerintahan Hindia-Belanda dipegang dan dipertanggung jawabkan oleh Keresidenan. Selain itu juga terdapat Gubernur Jendral sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam suatu pemerintahan. Hal ini yang juga diterapkan dalam kesatuan politik Indonesai dalam mengelola pemerintahan. Dimana terdapat bupati dalam mengelola daerahnya, juga terdapat pembagian kerja dalam birokrasi.

Bung Karno dan Marhaenisme



BUNG KARNO DAN MARHAENISME

Siapa tidak kenal dengan presiden pertama Republik Indonesia, sekaligus tokoh perjuangan dalam merebut kemerdekaan. Pasti semua mengenalnya, siapa lagi kalau bukan Ir. Soekarno. Soekarno dilahirkan pada tanggal 6 Juli 1901 di Surabaya. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosro-dihardjo. Melihat dari nama depan Ayahnya, Soekarno masih berdarah ningrat. Dari kecil Soekarno diasuh oleh kedua orang tuanya, selain itu ia juga diasuh oleh pembantunya yang bernama Sarinah. Soekarno mendapatkan banyak kenangan yang mendalam dari Sarinah. Sarinah mengajari anak asuhnya untuk mencintai rakyat jelata. Itu yang menyebabkan Soekarno sangat peduli sekali terhadap orang kecil atau dalam bahasa jawanya wong cilek. Selain itu Soekarno mewarisi citra rasa kesenian dari Ibunya yang berasal dari Bali. Sedangkan dari Ayahnya yang berasal dari Jawa Soekarno mendapatkan pengetahuan mistik Jawa.
Karena tinggal di Jawa Soekarno senang sekali dengan wayang. Tidak heran apabila Soekarno berpidato untuk menyampaikan pikirannya pada khalayak Jawa, Soekarno menggunakan media wayang. Namun ada unsur yang tidak di tangkap oleh Soekarno dalam pewayangan, yaitu citra santun dan halus. Melihat hal itu Soekarno dalam kehidupan menolak tradisi kehalusan dalam wayang dan menerjemahkan ke dalam citra energik, kasar dan duniawi. Namun pada dasarnya dalam masyarakat jawa sifat yang baik dan apa yang baik identik dengan yang halus.  
Saat Soekarno sekolah di Surabaya dan Bandung, dari siswa menjadi mahasiswa. Soekarno mengagumi tokoh Bima dalam pewayangan yang mempunyai sifat berani, jujur, serta kurang ramah. Selain itu ia galak, tak kenal kompromi, kasar, serta berani membatah terhadap orang yang diatasnya. Hal ini yang mendasari kepribadian diri Soekarno.
Sifat tidak mengenal kompromi ditunjukkan Soekarno dalam sikap anti kolonoalisme dan anti imperialism. Sedangkan sikap kompromi diperlihatkan Soekarno yang mau bekerja sama dengan orang yang sama-sama menentang penjajahan. Melalui caranya sendiri, Soekarno mengumpulkan ide-ide dan lairan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Lalu diolah menjadi satu ide baru yang diharapkan bisa diterima oleh masyarakat. Misalnya Nasionalisme, merupakan aliran politik yang tumbuh dalam masyarakat.
Lalu dari situ munculah ide-ide dan gagasan pemikiran Soekarno yang diberi nama Marhaen. Latar belakang nama Marhaen sendiri diambil Soekarno untuk memberi julukan bagi orang yang melarat di Indonesia. Kata Marhaen sendiri diambil Bung Karno saat menaiki sepedanya saat menuju Bandung selatan. Disitu Bung Karno melihat seorang petani dengan pakain yang lusuh yang sedang mengerjakan sawahnya. Lalau pakain yang lusuh diibaratkan Bung Karno sebagai kondisi masyarakat Indonesia. Petani itu mempunyai alat cangkul, sekop dan sawah yang sempit, saat ditanya Soekarno. Namun ironiya petani itu tetap miskin, hasil pertanian hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya tanpa ada sisa yang bisa dijual. Hal ini akibata dari sistem feodal dan imperialisme. Lalu saat ditanya namanya petani itu menyebutkan dirinya bernama Marhaen. Disini awal munculnya kata Marhaen sebagai gambaran kondisi masyarakat Indonesia saat masa penjajahan.
Marhaen sendiri julukan bagi orang yang melarat. Sedangkan ajaran tentang Marhaen disebut Marhaenisme. Marhaenisme dipakai Bung Karno sebagai pemersatu bagi orang yang melarat. Lalu sebuah ajaran tentang Marhaenisme dijadikan ideologi oleh Bung Karno. Namun sebenarnya ideologi Marhaenisme melibatkan kepribadian dan emosi Bung Karno. Selain itu tidak terlepas dari obsesi Bung Karno sebagai ideologi pemersatu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dan gagasan tentang Marhanisme sebenarnya adalah Marxisme yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi masyarkat Indonesia.
Pokok-pokok yang diletakkan bahwa Marhaenisme sebagai Marxisme yang diterapkan di Indonesia, antara lain:
1.      Seperti yang dicetusakan Bung Karno, Marhaenisme adalah praktek perjuangan masyarakat Indonesia terutama kaum Marhaen untuk melawan kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme. Dalam perjuangannya mempunyai landasan yang kukuh dengan menggalang semua kekuatan progresif revolusioner yang berporoskan NASAKOM.
2.      Marhaenisme adalah paham perjuangan didasarkan atas sifat revolusi Nasional Demokrasi dan Sosialisme Indonesia untuk mencapai tujuan masyarakat adil, makmur material dan spiritual.
3.      Dalam bidang ideologi, Marhaenisme adalah Marxisme yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi Indonesia. Selain itu pemikiran dan ide perjuangan di ambil dari ajaran Karl Max.
4.      Mempelajari dan memahami sejarah perkembangan Indonesia, berarti memahami sebaik-baiknya masyarakat Indonesia untuk membebaskan dirinya dari penindasan kapitalisme, imperialisme dan feodalisme.
Karena pada saat itu juga terdapat tiga gerakan yang paling gigih dalam memperjunagkan kemerdekaan Indonesia yaitu gerkan Nasionalis, gerakan Islam dan gerakan Komunis. Disitu Bung Karno sebagai pemersatu dengan menggunakan ideologi Marhaenisme. Dalam upayanya mempersatukan tiga gerakan tersebut Bung Karno tidak pernah luntur dalam masa perjuangannya dan tetap mempertahankannya. Selain itu untuk mempertemukan kaum Islam dan kaum Marxis, Bung Karno menekankan bahwa gerakan Islam dan Marxis adalah gerakan Internasional yang menentang kolonialisme dan imperialisme. Bung Karno juga menakankan bahwa “Marhaenisme tidak selalu anti Tuhan”, dan lebih merupakan cara berfikir.
Pada saat itu juga Bung Karno membentuk sekaligus menjadi pemimpin PNI (Partai Nasional Indonesia) sejak tahun 1927. Bung Karno menempatkan PNI sebagai partai yang terbuka, menerima semua orang dari aliran manapun dan agama manapun. Ideologi Marhaenisme pun sebagai dasar perjuangan partai, kebulatan tekad dan pedoman bagi warga PNI.  Marhaenisme sendiri merupakan ideologi yang sangat lentur, yang bisa ditafsirkan sesuai kondisi dan situasi politik Indonesia.
Dimasa Demokrasi Terpimpin, Marhaenisme ditafsirkan sebagai “Marxisme yang diterapkan sesuai kondisi dan situasi Indonesia”. Tapi di era Orde Baru, penyebaran Marhaenisme dilarang sesuai dengan TAP MPR yang ada saat itu. Namun pada saat dirumuskannya Pancasila sebagai dasar negara, Bung Karno mentafsirkan Marhaenisme identik dengan Pancasila. Marhaenisme sendiri menjadi sosio-Nasionalisme dan sosio-Demokrasi. Kewajiban seorang sosio-Nasionalisme mengobarkan semangat perlawanan kaum buruh dan mengorganisasikannya di dalam badan-badan serikat kerja yang kuat. Sosio-Demokrasi sendiri merupakan realisasi dari sosio-Nasionalisme. Ciri khas dari Marhaenisme sendiri yang tidak pernah berubah adalah kepedulian terhadap wong cilik.
Akhirnya untuk melakukan persatuan dan kesatuan, Bung Karno membentuk NASAKOM (Nasonalis-Agama-Komunis). Dimana tujuannya untuk melakukan gerakan revolusioner progresiv, untuk memerangi kapitalisme dan sistem feodal. Konsep Nasakom dinilai lebih maju dari pada harus mempersatukan Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme pada tahun 1920-an. Pada konsepsi Nasakom Bung Karno, buka lagi menyebut aliran marxis, melainkan komunis. Karena PKI dalam gerakannya sangat revolusioner progresiv. Akhirnya Bung Karno lebih merapatkan dirinya ke PKI, karena sesuai dengan tujuan yang diinginkan Bung Karno. Hingga di era demokrasi terpimpin PKI mendapatkan kelonggaran dari Bung Karno.
Akibat dari itu semua, posisi Bung Karno mulai goyah karena dituduh terlibat dalam G30S.  Selaian itu adanya keterikatan PNI dalam kerja sama dengan PKI di tingkat nasional itu menyebabkan PNI tidak mempunyai sikap yang jelas menghadapi ”pemberontakan” G30S yang melibatkan PKI dan meletus beberapa saat kemudian. Posisi PNI pun sangat dilematis, karena apabila mau berlindung dibalik Soekarno juga sulit, karena posisi Soekarno sendiri kian hari kian terdesak karena keengganannya membubarkan PKI. Maka dengan mudah PNI ditundukkan oleh penguasa rezim Orde Baru dan menjadikan PNI secara ideology tidak ada artinya sama sekali.
Dari ulasan diatas kita dapat mengetahui bahwa Ideologi Marhaenisme adalah Marxisme.  yang diterapkan sesuai dengan kondisi dan situasi bangsa Indonesia. Marhaenisme sendiri adalah ideologi  yang sangat lentur dan fleksibel. Selain itu Marhaenisme sebagai alat pemersatu kaum Marhaen dalam memerangi kapitalisme, imperialisme dan feodalisme yang mengakibatkan adanya penindasan dan kemiskinan.